Nabi Muhammad SAW wafat tanpa meninggalkan pesan siapa yang harus menggantikannya
sebagai pemimpin umat. Beberapa kerabat Rasul berpendapat bahwa Ali bin Abu
Thalib - misan dan menantu yang dipelihara Muhammad SAW sejak kecil yang
paling berhak. Namun sebagian kaum Anshar, warga asli Madinah. Berkumpul di
Balai Pertemuan (Saqifa) Bani Saudah. Mereka hendak mengangkat Saad bin Ubadah
sebagai pemimpin umat.
Abu Bakar adalah orang pertama di luar kerabat Rasul yang memeluk Islam. Ia dikenal
sebagai orang yang selalu membenarkan ucapan Muhammad SAW. Ketika orang-orang
menghujat Muhammad SAW karena mengatakan baru mengalami Isra' Mi'raj, Abu Bakar
menyatakan keyakinannya terhadap peristiwa itu. Ia menyiapkan perjalanan serta
menemani Muhammad Saw saat hijrah ke Madinah. Ia juga menikahkan putrinya,
Aisyah, dengan Rasul.
![]() |
Abu Bakar as-Shiddiq |
Di Madinah pun, Abu Bakar berselisih pendapat dengan Fatimah, putri Muhammad SAW, mengenai cara pengelolaan wang negara. Keluarga Rasul - termasuk Ali bin Abu Thalib - baru mengakui kepemimpinan Abu Bakar enam bulan kemudian, setelah Fatimah wafat.
Tugas pertama yang dilakukan Abu Bakar adalah melaksanakan amanat Rasul: memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid ke arah Palestina dan Syam. Ia sendiri - dalam usia 61 tahun - kemudian memimpin tentara menggempur Tulaiha. Operasi militernya sukses. Setelah itu, Abu Bakar membentuk 11 regu untuk menaklukkan kabilah-kabilah yang menolak membayar zakat. Yakni dari Tihama di Laut Merah, Hadramaut di ujung Lautan Hindia, sampai ke Oman, Bahrain, Yamama hingga Kuwait di Teluk Persia.
Pertempuran paling sengit terjadi melawan pasukan Musailamah yang memiliki 40 ribu pasukan. Tentara dari Madinah sempat hancur. Berkat kecerdikan panglima Khalid bin Walid, mereka memukul balik lawan. Seorang tentara Khalid, Al-Barra, berhasil melompati benteng Al-Hadikat dan membuka pintu dari dari dalam. Musailamah tewas.
Setelah itu, Khalifah Abu Bakar mengirim 24.000 pasukan ke arah Syria, di bawah komando empat panglima perang. Mereka bersiap menghadapi 240.000 pasukan Romawi - kekuatan terbesar di dunia pada masa itu - yang diperintah Heraklius. Abu Bakar menetapkan Yarmuk sebagai pangkalan mereka. Ia juga memerintahkan Khalid bin Walid - yang berada di wilayah Iraq - untuk pergi ke Yarmuk dan menjadi Panglima Besar di situ. Sebanyak 9000 pasukan dibawanya.
Abu Bakar mencatat banyak keberhasilan. Di jazirah Arab, ia telah berhasil menyatukan kembali umat Islam yang pecah setelah Rasul wafat. Di masanya pula, Islam mulai menyebar ke luar jazirah Arab. Meskipun demikian, ia tetap dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia hidup sebagaimana rakyat. Tetap pergi sendiri ke pasar untuk berbelanja, serta tetap menjadi imam solat di masjid Nabawi.
Selama dua tahun tiga bulan memimpin umat, ia hanya mengeluarkan 8.000 dirham wang negara untuk kepentingan keluarganya. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran waktu itu sekalipun. Ia juga memerintahkan pengumpulan catatan ayat-ayat Quran dari para sekretaris Rasul. Catatan-catatan itu dikumpulkan di rumah Hafshah, putri Umar. Abu Bakar meninggal dalam usia yang hampir sama dengan Rasul, 63 tahun.
Itulah cerita tentang tokoh Islam yang bernama Abu Bakar as-Shiddiq yang merupakan sahabat Nabi. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmahnya dari cerita tersebut. Jangan lupa bantu bagikan melalui sosial media yang tersedia. Terima kasih.